Tampilkan postingan dengan label Puisi Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Islami. Tampilkan semua postingan

Renungan di Malam Maulid Nabi

Assalamu'alaykum

Ya Rasulallah kami rindu padamu
Ya Allah, izinkan kami bertemu Rasul-Mu. Selagi masih hidup, pertemukan kami dalam mimpi
Ya Allah sampaikan salam kamu untuk Rasul-Mu, yang selalu menyertakan kami dalam doa-doanya. Bahkan saat Beliau berjumpa dengan-Mu
Ya Allah, bagaimana kami ini? Mengaku sebagai umat Rasul-Mu tapi kami tidak pernah mau belajar menambah ilmu tentang Rasul-Mu. Ampunilah kami Ya Allah
Ya Allah ajarilah kami untuk senantiasa mencintai Rasul-Mu dan mencintai apa yang diajarkan Rasul-Mu
Ya Allah, seperti apa penderitaan Rasul-Mu saat berjuang? Hingga kami hari ini dapat mengaku sebagai muslimin dan muslimah
Ya Allah kumpulkanlah kami dengan Rasul dan orang-orang yang dicintai Rasul-Mu
Ya Allah, Rasulmu pernah khawatir kami terpecah-pecah. Sekarang kekhawatiran itu terjadi. Sampaikan salam kami kepada Rasul-Mu Ya Allah


Ya Allah, umat Rasul-Mu ini belum bisa membuat Rasul-Mu tersenyum. Kami masih berbalut kebodohan, kemiskinan, dan kemaksiatan. Tolong ka Ya Allah, Anta Maulana
Ya Allah izinkan malam ini kami Tahajud, agar kelak dapat satu surga dengan Rasul dan keluarga Rasul-Mu

Oleh Ustadz Yusuf Mansur
Gambar Makam Sayyidina Muhammad SAW. Masjidil Nabawwi, Madinah Al-Mukarromah

Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?

 
 
Gus Musthofa Rembang

Ku pergi tahlil kau bilang amalan jahil
Aku baca sholawat burdah kau bilang itu bid'ah
Lalu aku harus bagaimana?
 
Aku bertawassul dengan baik kau bilang aku musyrik
Aku ikut majelis dzikir kau bilang aku kafir
Lalu aku harus bagaimana?

Aku sholat pakai niat kau bilang aku sesat
Aku mengadakan maulid kau bilang gak ada dalil yang valid
Lalu aku harus bagaimana?
 
Aku gemar berziarah kau bilang aku alap-alap berkah
Aku mengadakan selamatan kau bilang aku pemuja setan
Lalu aku harus bagaimana?

Aku pergi yasinan kau bilang itu tak membawa kebaikan
Aku ikuti tassawuf Imam Al-Ghazali malah kau suruh aku untuk menjauhi
Ya Sudahlah... Aku ikut kalian
 
 Ya sudah aku ikuti saranmu
Kan ku pakai celana cingkrang biar kau senang
Kan ku panjangkan jenggot biar dibilang berbobot
Kan ku hitamkan jidat agar dibilang ahli ijtihad
Aku kan sering menghujat, biar dibilang hebat
Aku kan sering mencela, biar dibilang mulia

Ya sudahlah.. Aku pasrah pada Tuhan
Yang Ku Sembah

Masjid Tua



Musthofa W Hasyim
Kolam yang dihidupkan
menawarkan kejernihan
Pasir di halaman menyempit
irisan batu ditata rapi
Masih ada pohon sawo kecik
tempat burung kuntul membuat sarang
Kapankah anak-anak
terpanggil pulang?
Di luar sana
badai menerjang setiap detikmu
Mari, kunjungi kembali serambi
Pergaulan, kata-kata ramah
Mari, kita amati bayang-bayang
memanjang di semua usia

Sajak Kepada Kawan


Iqbal H. Saputra
Sajak ini aku persembahkan kepada kawan
Sebagai genderang penabuh rindu
Sebagai suling pengiring pilu
Untuk kalian baca ketika jumpa waktu pisah
Untuk kalian ingat saat jarak dan waktu terasa jauh sudah
Karena aku tak bisa terus bernyanyi bersamamu
Karena aku tak bisa selalu bertatap denganmu
Kawan
Sajak ini adalah bukti kecintaanku sebagai seorang
Kawan
Simpanlah sajak ini dalam hatimu
Bawalah dalam kedip matamu selalu
Sebagai penawar rindu
Sebagai pengusir biru
Kawan
Sajak ini kutulis karena-Nya
Khusus untuk dirimu

Ibadah Kabut


Bambang Widiatmoko
Setelah lelah melafalkan doa
Angin Eropa membekukan kepala
Bukit batu di luar jendela
Tak lagi bercahaya
Seribu malaikat seakan tiba
Menggoyang-goyangkan pohon kurma
Dengan wajah kusut
Keluar dari bau selimut
Bibirmu bersungut
Janji yang lupa dipungut
Biarlah menjadi larut
Dalam ibadah yang berkabut

Mina


Bambang Widiatmoko
Menjelang senja sampailah di Mina
Padang pasir berubah menjadi lautan tenda
Bukit berjejal penuh umat berdiam di udara terbuka
Jalan raya berubah menjadi sungai manusia
Mengalir menuju kesempurnaan hidup yang didamba
Malam pun tiba, tapi miskin cahaya
Dalam gelam berjalan menyusuri jejak Muhammad
Jalan menuju keyakinan hidup berakhir surga
Seperti menjejalkan 49 kerikil di kantung celana
Melempar setan-setan yang mengencingi sukma

Benci Yang Merindu


Anindya Puspita
Hujan malam ini membawaku kepada
sehelai kontemplasi
Mencumbui kemarau hati ini
Merobek kembali luka yang telah usang
Kau, tertuduk lunglai ditemani hujan di bawah kelopakmu
Lemas mendekati mati suri
Kemudian mengeja masa lampau
Mengharap redam akan tersinggahi jiwa nan sangsi
Kembali menata serpihan kenangan
Merangkai kembali sebagai cermin diri

Jabbal Rahmah : Ujung Cakrawala



Achmad Charris Zubair
Adam dan Hawa
Turun ke bumi
Terusir dari surga
Sesudah menikmati buah khuldi
Adam berjalan terseok ke ufuk barat
Di tempat tenggelam matahari
Hawa melangkah tertatih ke ufuk timur
Di tempat terbit matahari
Keduanya mengayunkan kaki menuju cakrawala
Yang disangka menjadi tempat bertautnya
Bumi dan langit
Tempat dimana akhir perjalanan
Tempat dimana keduanya berharap
Bertemu belahan jiwanya
Besua kutub magnet tubuhnya
Yang dikangeninnya sejak lama
Adam dan Hawa
Melangkah menuju cakrawala
Dengan rasa kangen yang mampat
Dengan asa yang pekat
Adam tak pernah bertemu malam
Karena maahari tak kunjung terbenam
Hawa tak pernah bertemu terang
Karena matahari tak kunjung datang
Ujung kembara semakin terasa
Semakin menjauh
Karena cakrawala
Hanyalah keterbatasan pandangan
Bumi dan langit
Tak pernah bertaut dan
Tak mungkin berpagut
Adam sampai di ujung palig barat dunia
Hawa tiba di ujung paling timur dunia
Adam dan Hawa sangat berduka
Melelehkan air mata
Karena keduanya mengira tak akan lagi ada asa
Untuk bersua dengan kutub magnet tubuhnya
Dengan belahan jiwanya
Adam dan Hawa
Merasa tidak mungkin bertemu
Dan merasa tidak mungkin mempertautkan jiwa
Seperti bumi dan langit
Yang tak mungkin saling berpagut
Di Cakrawala
Padahal sesungguhnya
Adam dan Hawa
Tidak berada di tempat terpisah dan berbeda
Mereka berada pada titik tempat yang sama
Di bukit cinta
Tempat bersemi kasih sayang
Jabbal Rahmah
Adam dan Hawa
Akan bersua dan saling bertaut
Kalau bersedia saling mengalah
Untuk memalingkan muka
Meluruhkan kesombongan untuk
Tidak saling beradu punggung
Dan saling membelakangi satu sama lainnya
Membalikkan tubuh
Memalingkan muka
Pertautkan belahan jiwanya
Pertemukan kutub magnet tubuhnya
Di Jabbal Rahmah
Ujung Cakrawala